KIJA Menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik dengan PLN

PT Bekasi Power, anak usaha PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menandatangani perjanjian kerjasama jual beli listrik dengan PT PLN hari ini. Demikian dikemukakan Investor Relations Manager KIJA, Tim Beekelaar di Jakarta Kamis (24/2).

Dengan ditandatanganinya kerja sama ini, KIJA menargetkan pembangkit listrik akan dapat beroperasi pada triwulan IV-2011. PLN akan membeli 100% listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik Bekasi Power berkapasitas 130 MW selama 20 tahun ke depan.

KIJA menargetkan kontribusi pendapatan sebesar US$ 85 juta per tahun dari pembangkit listrik tersebut.

Kerjasama dengan PLN tersebut langsung mengangkat harga KIJA sebesar Rp 20 (19,23%) ke Rp 124 pagi ini. (Top Saham)

Kabar Dijual Temasek, Saham BDMN Naik 3,2%

Kabar Temasek akan  menjual saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) membuat saham BDMN melesat Rp200,- atau naik 3,2% ke level Rp6.450 per saham.

Harga tertinggi saham BDMN hingga penutupan sesi I hari ini volume perdagangan BDMN tercatat sebanyak 21.063 saham dengan nilai transaksi sebesar Rp67,76 miliar untuk 548 kali transaksi.

Sebelumnya ada kabar PT Bank Danamon Tbk (BDMN) telah menjadi objek kepentingan intens. Bank of China melihat bank ini menjadi sasaran potensi investasi. Orang yang dekat dengan Bank Danamon mengatakan, sebagai entitas, China menjadi semakin agresif di panggung dunia, terutama di pasar sumber daya yang kaya seperti Indonesia.

Bankir mengatakan bahwa Standard Chartered, beberapa bank Korea Selatan, dan beberapa investor non-keuangan seperti Jardine Matheson juga berminat untuk meminang bank tersebut. DBS juga disebut-sebut ikut melirik bank ini meskipun telah mengatkan tidak akan membeli Danamon.

Bank ini banyak dilirik investor karena pertumbuhan kredit mikronya yang luar biasa, yang bersedia membayar margin yang lebih tinggi daripada yang dibayar oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya.

Setelah pemerintah membailout Danamon setelah krisis keuangan Asia pada tahun 1999, para kreditur bank telah mengubah bank ini menjadi bank yang mencetak laba besar oleh tim dari Fullerton, perusahaan yang dikendalikan Temasek yang memegang 67 persen saham pengendali di Danamon. “Ini adalah sebuah bank besar,” kata Helge Trapness, kepala lembaga keuangan Barclays Capital di Hong Kong.

DAVO Jadi Laba Rp145 Miliar di 2010

Laba bersih PT Davomas Abadi Tbk (DAVO) diperkirakan mencapai sebesar Rp 145 miliar di akhir 2010 dari rugi pada tahun 2009 sebesar Rp 227 miliar.

Dari data yang diperoleh perseroan mencatat pendapatan 2010 sebesar Rp 1,58 triliun, melesat 289,16% dari tahun 2009 sebesar Rp 406 miliar.

Peningkatan pendapatan yang cukup signifikan dibarengi dengan penurunan beban utang berhasil membuat DAVO mencetak laba setelah merugi di tahun 2009. (Top Saham)

KSEI Dipercaya Simpan Dana Rp6,26 triliun

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mendapatkan kepercayaan menyimpan sebesar 85,32% atau senilai Rp6,26 triliun Sukuk Negara Ritel Seri SR-003 dari jumlah total penerbitan senilai Rp7,34 triliun.

Direktur Utama KSEI, Ananta Wiyogo mengatakan dari 20 agen penjualan (selling agent) yang dipercayakan menjual sukuk tersebut, sebanyak 15 agen penjual menggunakan KSEI sebagai Subregistry untuk menyimpan SR-003.

“Agen penjual tersebut antara lain PT Bank International Indonesia Tbk (BNII), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Syariah Mandiri, Citibank N.A, PT Kresna Graha Sekurindo Tbk (KREN), PT Andalan Artha Sekuritas, PT Bahana Securities, PT Ciptadana Securities, PT Danareksa Securities, PT Mega Capital Indonesia, PT Reliance Securities Tbk (RELI), PT Sucorinvest Central Gani, PT Trimegah Securities Tbk (TRIM) dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd,” urainya di Jakarta, Kamis (24/2).

Ananta menambahkan tingginya kepercayaan yang ditunjukkan para agen penjual yang menggunakan jasa penyimpanan Sukuk Negara Ritel diharapkan dapat memberikan kenyamanan kepada investor, termasuk dalam proses administrasi yang dilakukan secara pemindahbukuan (Top Saham)

Penggabungan Indosiar-SCTV Bisa Saja Batal

Menajemen PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM)menegaskan, langkah merjer atau pun akuisisi Indosiar dan SCTV masih memungkinkan batal, jika secara komersial dianggap tidak menguntungkan atau tidak memperoleh izin dari instansi terkait.

Demikian disampaikan Direktur Utama IDKM, Handoko, di Jakarta, Kamis (24/2). Dikatakan, penggabungan usaha dua perusahaan tercatatyang bergerak di bidang media, PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA),  berpeluang menghapus (delisting) saham IDKM, dari  lantai bursa.

Saham IDKM akan melebur kedalam saham SCMA seiring dengan proses penggabungan usaha yang akan dilakukan perusahaan tercatat tersebut. Namun, proses merjer tersebut masih dalam tahap  pembicaraan, apakah struktur yang akan diambil adalah merjer ataukah akuisisi.

“Apabila strukturnya adalah merjer, ada indikasi kuat yang akan menjadi surviving company (perusahaan yang akan bertahan) adalah SCMA,” ujar Handoko

Saat ini rencana merjer masih dalam tahap awal. Baik manajemen IDKM dan SCMA, masih melihat berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan untuk mensinergikan kekuatan kedua perusahaan tersebut di bidang media. Lanjut Handoko, pembicaraan yang dilakukan juga menyangkut struktur transaksi terbaik dan paling efektif serta efisien, dalam kombinasi bisnis (business combination) untuk memberi hasil optimal bagi pemegang saham.

Pembicaraan itu, menurut Handoko masih sangat dini. “Proses due diligence (uji tuntas) belum dimulai,” tegasnya. Saat ini, manajemen Indosiar  baru melakukan tahap finalisasi untukmengangkat para konsultan profesi penunjang pasar modal. Perseroan, lanjutnya juga masih memfinalisasi struktur dan valuasi untuk dikaji oleh penilai independen. Setelah tahapan itu selesai, manajemen baru dapat menyampaikan informasi lebih detil terkait aksi korporasi tersebut. “Untuk proses penunjukan profesi penunjang pasar modal masih dalam proses seleksi,” katanya.

Diharapkan bisa menyelesaikan rencana tersebut sebelum semester II/2011. Dengan begitu, langkah merjer dapat menggunakan laporan keuangan per 31 Desember 2010, baik untuk IDKM, SCMA dan EMTK. (Topsaham )

Minat Investor pada Saham Capai Rekor

LONDON – Kalangan investor global tengah dalam gairah bullish paling tinggi terhadap pasar saham dan komoditas dalam hampir 10 tahun terakhir pada bulan ini. Hal ini dipicu meningkatnya optimisme terhadap prospek pertumbuhan tinggi seiring pemulihan ekonomi global meski dibayangi kekhawatiran infl asi tinggi. Demikian laporan hasil survei bulanan yang dilakukan Bank of America-Merrill Lynch terhadap sejumlah manager investasi global yang dirilis di London, awal pekan lalu.

Dari survei itu ditunjukkan sekitar 67 persen responden memberikan bobot investasi tinggi (overweight) pada instrumen saham pada Februari. Ini naik dibanding bulan sebelumnya sebesar 55 persen. Selain itu, angka tersebut juga mencapai level tertinggi untuk pertama kalinya sejak dilakukan survei pada April 2001. Pemungutan suara yang dilakukan terhadap 188 partisipan dengan total dana kelolaan sebesar 569 miliar dollar AS atau 5.230 triliun rupiah atau setara hampir dua kali lipat kapitalisasi pasar saham di Indonesia itu juga menunjukkan penurunan alokasi investasi di pasar negara-negara berkembang (emerging markets).

Hanya lima persen yang memiliki overweight di pasar negara berkembang, atau te rendah sejak Maret 2009 dibanding posisi Januari 43 persen dan rata- rata sekitar 27 persen. Ini seiring ekspektasi laju infl asi akan menembus level tertinggi dalam 6 tahun terakhir. Sekitar 75 persen responden memperkirakan kenaikan inflasi dalam 12 bulan ke depan. “Ini menjadi salah satu survei yang paling bullish dari yang pernah kita miliki dalam jangka panjang. Pada dasarnya, hal itu dipicu ekspektasi pertumbuhan yang akan lebih tinggi.

Apa yang kita lihat juga terjadi keputusan alokasi aset yang cukup ekstrem,” kata Patrick Schowitz, kepala strategi di Bank of America Merrill Lynch. “Meski minat risiko masih tinggi, investor melakukan pelepasan portofolio dari pasar negara berkembang. Ada kekhawatiran soal infl asi di negara emerging market dan berarti akan ada pengetatan moneter seperti kenaikan suku bunga,” Sementara itu, posisi bobot investasi rendah (underweight) di portofolio obligasi justru naik menjadi 66 persen di banding bulan lalu sekitar 54 persen.

Komoditas merupakan kelas aset kedua setelah saham yang paling diincar investor. Bobot investasi di portofolio komoditas mencapai rekor sekitar 28 persen, dibanding bulan lalu sebesar 16 persen. Demikian pula posisi bobot investasi underweight pada dana tunai naik dari 5 persen pada Januari menjadi 9 persen pada Februari yang tidak pernah terlihat sejak Januari 2002. Namun, kepemilikan dana tunai rata-rata turun dari 3,7 persen ke 3,5 persen.
ayi/asp/Rtr/E-1

Newmont Masuk Bursa Kuartal III

Newmont Nusa Tenggara (NNT) diharapkan sudah dapat menawarkan saham perdananya pada kuartal ketiga atau akhir semester pertama 2011. Perusahaan yang bergerak di bidang industri tambang mineral dan emas ini kabarnya telah menyatakan minatnya untuk menjadi perusahaan terbuka kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Mereka memang sudah menyatakan minatnya kepada kami. Kemungkinan mereka akan bergabung akhir semester pertama 2011 atau sekitar kuartal III. Hal ini sejalan dengan komitmen kami untuk mengundang perusahaan berbasis Sumber Daya Alam (SDA) untuk melantai di bursa,” ujar Ito Warsito, Direktur Utama BEI, di Jakarta, Rabu (23/2).

Ada tiga hal yang menjadi alasan bagi salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia ini untuk Go Public. Pertama, penawaran perdana saham umum dikatakan bisa memberikan kesempatan kepada masyarakat termasuk individu dan masyarakat yang ada di Sumbawa untuk memunyai kesempatan membeli saham Newmont Nusa Tenggara. Kedua, Initial Public Off ering akan mendukung kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan ekonomi secara luas dan menyeluruh.

Ketiga, perusahaan nantinya akan lebih dikenal dan mudah untuk mencari pendanaan. Selain Newmont Nusa Tenggara, BEI juga tengah menunggu ketertarikan PT Freeeport Indonesia untuk turut mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. (Koran Jakarta ayi/E-1)

Oversubscribe, Penjamin Emisi Tak Perlu Serap Saham Mandiri

Bank Mandiri mengumumkan penawaran saham terbatas sebanyak 2.336.838.591 lembar mengalami over subscribed. Ini berarti, underwriter tak perlu menyerap sisa saham. “Total dana yang diperoleh sebesar Rp 11,68 triliun (gross),” ujar Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Pahala N Mansury pada Tempo lewat surat elektronik, Kamis (24/2).

Seluruh penawaran saham sebanyak 2.336.838.591 lembar telah diserap oleh investor. “Sehingga tidak terdapat sisa saham yang harus di serap penjamin emisi, PT Mandiri Sekuritas maupun PT Danareksa Sekuritas,” ujar Pahala.

Sebelumnya, Bank Mandiri mengumumkan penerbitan 2,336 miliar saham right issue dengan harga Rp 5.000. Tanggal pencatatan untuk memperoleh hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) ini akan dimulai sejak 10 Februari 2011 lalu. Dari harga saham ini, Bank Mandiri memperoleh dana hingga Rp 11,68 triliun.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) Bank Mandiri menyetujui rencana peningkatan modal melalui Penawaran Umum terbatas 2.336.838.591 saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) ini.

Atas penerbitan saham ini, CAR atau rasio kecukupan modal diestimasikan juga bertambah 2-3 persen. Yakni dari semula di bawah 12 persen akan naik menjadi 14 persen. Dan di akhir tahun diharapkan bisa menjadi 16 persen. (Tempo FEBRIANA FIRDAUS)

Pemerintah Belum Ubah Asumsi Harga Minyak

Pemerintah sampai sejauh ini belum berencana untuk mengubah asumsi harga minyak indonesia crude price US$ 80 per barel meskipun belakangan harga minyak dunia menembus lebih dari US$ 100 per barel. Revisi anggaran APBN 2011 belum akan dilakukan pemerintah.

Keyakinan pemerintah ini dilakukan ditengah-tengah perkembangan harga minyak dunia yang terus bergerak naik akibat pengaruh kondisi politik di Timur Tengah, terutama di Libya yang terus bergolak saat ini.

Selain ancaman kenaikan harga minyak, pemerintah juga mesti berhadapan dengan lifting minyak yang kemungkinan tak mencapai target di APBN 2011 sebesar 970 ribu barel.

Meskipun tetap mewaspadai dua kemungkinan terburuk tersebut, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan pemerintah masih melihat kenaikan harga minyak dunia secara rata-rata setahun.

“Kalau misalnya sekarang harga minyak di atas US$ 100, tapi kan full year-nya mungkin averagenya US$ 83 dolar, pemerintah mesti melihat dalam konteks setahun,” kata Agus usai rapat dengan Komisi Keuangan DPR, Jakarta, Kamis (24/2)

Agus mengatakan kemungkinan lifting minyak tidak akan sesuai dengan asumsi yang selama ini dipakai yaitu 970 ribu barel per hari. “Mungkin average-nya nanti tidak bisa mencapai sebesar itu, kelihatannya tidak tercapai” katanya.

Salah satu sebab yang membuat lifting minyak tidak akan tercapai adalah adanya UU Pelayaran yang menafsirkan bahwa alat produksi drilling dinyatakan sebagai kapal, sehingga harus berbendera Indonesia. Hal ini mempengaruhi rencana produksi kontraktor minyak. Demikian pula dengan rencana produksi minyak Blok Cepu yang kemungkinan besar akan mengalami penundanan. ( IQBAL MUHTAROM Tempo)

Investor Beralih Ke Emas Lemahkan Rupiah

Rontoknya bursa saham regional karena kekhawatiran krisis Timur Tengah membua para pelaku pasar saat ini cenderung keluar dari mata uang Asia. Alhasil, menguatan rupiah ke level 8.800 per dolar Amerika Serikat (AS) kembali terganjal.
Berita terkait

Nilai tukar rupiah di transaksi pasar uang Jakarta Kamis (24/2) sore ini ditutup melemah 18 poin (0,2 persen) ke level 8.873 per dolar AS dari pentupan kemarin.

Menurut Apelles R.T Kawengian, pengamat pasar uang PT Monex investindo Futures, melambungnya harga minyak memberikan sentimen negatif bagi pasar finansial Asia hari ini. Bursa saham dan mata uang regional melemah.

Kenaikan harga minyak diatas US$ 100 per barel membuat para pemodal mengalihkan investasinya ke bursa komoditas terutama emas untuk mengantisipasi tingginya inflasi. “Ancaman tingginya inflasi dampak dari kenaikan harga minyak dan terdepresiasinya dolar AS terhadap mata uang utama dunia membuat logam mulia menjadi primadona saat ini,” kata Apelles.

Disaat harga komoditas naik, dolar AS cenderung melemah terhadap mata uang utama dunia. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang rival utamanya sore ini pukul 17:55 WIB turun 0,32 poin (0,41 persen) ke level 77,089.

Meskpiun rupiah melemah tetapi tidak melemah terlalu signifikan. Biasanya bila terjadi ketidakpastian dari faktor global rupiah akan berfluktuasi cukup lebar, namun kali ini rupiah cukup stabil. “ Ini mengindikasikan bahwa para pelaku pasar masih cukup percaya diri berinvestasi dalam mata uang lokal,” tuturnya.

Selain dari faktor fundamental yang masih cukup bagus dimana inflasi tetap terkendali, imbal hasil sangat kompetitif, serta prospek ekonomi masih cukup prospektif. Ditambah lagi peringakt utang Indonesia terus membaik mendekati level layak investasi (investment grade). Selain cukup aman, imbal hasilnya juga sangat tinggi dibandingkan dengan negara lainnya.

Untuk sepekan ke depan rupiah masih cukup berpotensi menguat dengan rentang antara 8.800 hingga 8.880 per dolar AS.

Apelles juga memberikan saran kepada para pelaku pasar agar tetap mencermati gejolak politik di Lybia dan negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara Lainnya. Karena kalau kondisi ini akan berlangsung cukup lama tidak menutup kemungkinan harga minyak akan terus merambat naik hingga ke level tertingginya U$$ 150 per barel di tahun 2008. (VIVA B. KUSNANDAR  Tempo)

Design a site like this with WordPress.com
Get started